
Di balik hiruk-pikuk kota, ada sepasang lansia renta yang hidup dalam kesunyian Sang Nenek (Waginem) telah lama buta, sementara sang Kakek (Bakri) hanya bisa mendengar dunia dengan keterbatasan karena tuli. Namun, dengan tubuh yang rapuh dan usia yang semakin menua, mereka tetap berjualan ontong (jantung pisang) di pinggir jalan untuk bertahan hidup.
Setiap hari, tangan gemetar itu meraba jalan, berkeliling puluhan kilometer. dengan hati yang tulus Kakek Bakri menuntun jalan Nenek Waginem, Mereka menjajakan dagangan kecilnya dengan penghasilan paling banyak sebesar 15 ribu perhari, kalau dagangan nya tidak laku, mereka akan berpuasa.
Lebih pilu lagi, satu-satunya anak yang dulu menjadi penopang hidup mereka, sudah lama pergi meninggalkan dunia. Sejak itu, keduanya benar benar sendiri. Tak ada yang menemani, tak ada yang merawat. Hanya sisa sisa tenaga yang mereka pakai untuk bertahan hidup di hari tua.
Seharusnya di usia senja, Kakek Bakri dan Nenek Waginem bisa beristirahat dengan tenang, dikelilingi kasih sayang keluarga. Tapi kenyataannya, mereka harus melawan lapar, dingin, dan kesepian.
Hari ini, kita bisa menjadi keluarga bagi Kek Bakri dan Nenek Waginem. Kita bisa menjadi alasan agar mereka tidak lagi merasa sendirian di dunia ini. Sekecil apapun yang kita berikan, akan menjadi cahaya di tengah gelapnya hidup mereka.
Mari bersama-sama ulurkan tangan untuk pasangan lansia ini, agar di sisa hidupnya mereka dapat merasakan ketenangan dan kasih sayang yang mungkin sudah lama hilang.
![]()
Menanti doa-doa orang baik